Categories
Asuransi

Sejarah Asuransi

Sejarah Asuransi mempunyai kisah yang panjang sebelum menjadi sebuah industri yang berkembang pesat saat ini.
Semuanya berawal dari tahun 1750 sebelum masehi seperti yang dikisahkan dalam ulasan sejarah asuransi dibawah ini.

hammurabi code
Hammurabi Code

Hukum Raja Hammurabi

Konsep utama asuransi – yaitu pengalihan dan penyebaran resiko – telah lama beroperasi sejalan dengan eksistensi manusia. Entah itu pada saat jaman berburu, dimana mereka berburu hewan secara berkelompok untuk menyebarkan resiko terhadap kematian, atau pada masa pengiriman kargo dengan menggunakan karavan yang berbeda-beda untuk menghindari resiko kehilangan seluruh muatan akibat perampokan. Dari jaman dulu orang selalu waspada terhadap resiko.

Polis asuransi tertulis pertama kali muncul di zaman kuno pada monumen obelisk Babilonia dengan hukum Raja Hammurabi terukir didalamnya. The “Hammurabi Code” adalah salah satu bentuk hukum tertulis pertama di dunia. Hukum kuno ini memang mempunyai konsekuensi ekstrim dalam banyak hal, tetapi menawarkan prinsip dasar asuransi yaitu dimana debitur tidak perlu membayar kembali pinjamannya jika mereka mengalami bencana yang mustahilkan mereka untuk melakukan pembayaran (kecacatan, kematian, banjir, dll).

Perlindungan Serikat Buruh

Dalam zaman pertengahan, sebagian pengerajin dilatih melalui sistem serikat buruh. Anak-anak menghabiskan masa kecil mereka untuk magang bekerja kepada pengerajin yang sudah mahir dengan bayaran yang tidak setimpal, bahkan terkadang tidak dibayar sama sekali. Setelah mereka beranjak dewasa dan menjadi ahli dalam pekerjaan mereka, mereka membayar iuran ke serikat buruh dan mulai melatih anak magang mereka sendiri. Seorang pengerajin yang kaya memiliki banyak pundi-pundi atau cadangan kekayaan yang berfungsi sebagai dana asuransi. Jika bengkel mereka terbakar, adalah suatu hal yang umum menimpa gubuk-gubuk kayu di Eropa pada abad pertengahan, pengerajin kaya itu akan membangun bengkelnya kembali menggunakan uang dari pundi-pundi simpanannya. Jika dirampok, mereka akan menutupi kewajibannya sampai uang mulai mengalir lagi. Jika pengerajin tersebut tiba-tiba tidak bisa bekerja atau dibunuh, maka serikatnya akan mendukung dia atau janda dan keluarga. Sistem jaring pengamanan ini mendorong semakin banyak orang meninggalkan dunia pertanian dan terjun ke dunia perdagangan. Akibatnya, jumlah barang yang tersedia untuk perdagangan meningkat, begitu pula jumlah varian barang dan jasa yang tersedia. Gaya asuransi yang digunakan oleh serikat buruh ini masih ada sampai saat ini dalam bentuk “perlindungan kelompok”.

Lloyd Coffee House
Lloyd Coffee House

Perairan Yang Berbahaya

Praktek underwriting muncul di kota London seumur dengan beroperasinya rumah kopi yang menjalankan fungsi seperti bursa resmi untuk Kerajaan Inggris. Pada akhir tahun 1600, kegiatan ekspor impor baru dimulai antara kerajaan Inggris dan daerah-daerah koloni yang mulai mapan. Sebuah rumah kopi milik Edward Lloyd, yang kemudian menjadi Lloyd of London, adalah tempat pertemuan utama bagi pedagang pada kala itu dimana para pemilik kapal juga berkumpul untuk mencari asuransi.

Sebuah sistem dasar untuk pendanaan pelayaran ke dunia baru diciptakan. Pada tahap pertama, pedagang dan perusahaan akan mencari pendanaan dari para pemodal ventura. Lalu para kapitalis ventura ini bertugas membantu dan menemukan orang-orang yang ingin membuat koloni, yang biasanya adalah orang-orang dari daerah miskin di kota London. Mereka ini nantinya yang akan membayar sebagian biaya pelayaran. Sebagai keuntungannya, pemodal ventura akan mendapatkan profit dari barang-barang bawaan hasil daerah koloni. Walaupun yang diharapkan dari daerah koloni yaitu emas atau batu permata tidak selalu didapatkan, para pemodal ventura masih mau mendanai pelayaran dengan imbal hasil panenan dari dunia baru yaitu tembakau.

Setelah perjalanan tersebut dijamin oleh pemodal ventura, para pedagang dan pemilik kapal akan pergi ke Lloyd dan menyerahkan salinan kargo kapal untuk dibacakan kepada para investor dan penjamin yang berkumpul di sana. Orang-orang tertarik mengambil resiko untuk mendapatkan keuntungan yang disepakati akan menandatangani dibawah salinan tersebut dengan harga yang lebih rendah dari angka yang menunjukkan nilai muatan dari kargo dimana mereka mengambil alih resiko dan tanggung jawab pelayaran tersebut (hal ini kemudian disebut ‘underwriting’ arti harfiah dari ‘menulis dibagian bawah’). Dengan cara ini, sebuah perjalanan tunggal akan memiliki beberapa penjamin emisi, dimana mereka pun menyebarkan resiko mereka dengan mengambil saham atau peranan di beberapa pelayaran yang berbeda.

Kalkulator pertama
Kalkulator Pertama

Pada 1654, Blaise Pascal, seorang warga prancis menemukan kalkulator pertama didunia, dan rekan senegaranya, Pierre de Fermat, menemukan cara untuk menilai suatu probabilitas dan dengan demikian, tingkat resiko dapat dipamami. Segitiga Pascal menuntun penemuan tabel aktuari pertama yang, dan sekarang masih, digunakan untuk menghitung tarif asuransi. Hal ini membantu praktek underwriting dan membuat asuransi menjdi lebih terjangkau.

Kebakaran Dan Wabah

Pada 1666, kebakaran besar di kota London menghancurkan sekitar 14.000 bangunan. Saat itu London masih belum pulih dari wabah yang menghancurkan setahun sebelumnya. Banyak korban yang selamat kehilangan rumah. Sebagai respon terhadap kekacauan dan kemarahan yang diikuti dengan pembakaran di kota London, kelompok penjamin emisi yang sebelumnya secara eksklusif menangani asuransi pelayaran membentuk perusahaan asuransi yang menawarkan asuransi kebakaran. Berbekal segitiga Pascal, perusahaan-perusahaan ini dengan cepat memperluas jangkauan bisnis mereka. Pada 1693, tabel mortalitas pertama diciptakan dengan menggunakan segitiga Pascal dan asuransi jiwa adalah produk asuransi berikutnya.

Migrasi Asuransi Ke Amerika

Perusahaan asuransi berkembang pesat di Eropa, terutama setelah revolusi industri. Di Amerika, cerita itu sangat berbeda. Kehidupan koloni yang penuh dengan bahaya menyebabkan tidak ada satupun perusahaan asuransi mau menyentuh. Sebagai akibat dari kurangnya makanan, perang dengan suku-suku pribumi dan penyakit, hampir tiga dari setiap empat orang koloni tewas dalam 40 tahun pertama pemukiman mereka di dunia baru ini. Butuh waktu lebih dari 100 tahun bagi asuransi untuk membangun dirinya di Amerika. Ketika akhirnya itu terjadi, hal itu membawa kemajuan, baik dalam praktik dan kebijakan yang dikembangkan dibandingkan dengan periode waktu yang dibutuhkan di dataran Eropa.

Categories
Asuransi

Asuransi Itu Penting atau Tidak Penting?

Setujukah Anda dengan pernyataan ini: Asuransi Itu Tidak Penting!

Pernyataan diatas sering saya dengar, bahkan dulu saya orang pertama yang paling keras menentang asuransi (saya cukup ‘jago’ dalam berdebat hehe…)
Namun dengan berjalannya waktu dan saya belajar tentang apa itu asuransi dengan benar, paradigma dan pandangan saya berubah banyak tentang apa itu asuransi.

Asuransi itu BUKAN tentang ANDA, tapi tentang KELUARGA ANDA!

Asuransi itu berbicara mengenai warisan atau proteksi untuk masa depan keluarga atau anak cucu Anda, karena asuransi berbicara tentang Uang Pertanggungan Jiwa.

Saya menyarankan jika Anda ingin mengcover biaya rumah sakit jika Anda sakit, namun Anda tidak ingin keluar uang banyak di asuransi, Anda dapat menggunakan BPJS yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk asuransi kesehatan Anda. Namun untuk asuransi jiwa, saya sarankan Anda menggunakan asuransi jiwa swasta.

Categories
Asuransi

4 Alasan Kenapa Asuransi Jiwa Penting Untuk Anda

Kenapa Anda Harus Memiliki Asuransi Jiwa? Sebelum menjawab pertanyaaan diatas, ada baiknya kita tahu apa itu Asuransi Jiwa. Asuransi jiwa adalah Asuransi yang bertujuan menanggung orang terhaadap kerugian finansial tak terduga yang disebabkan karena meninggalnya terlalu cepat atau hidupnya terlalu lama. Dalam asuransi jiwa banyak resiko yang harus dihadapi, yaitu:

  • Resiko Kematian
  • Hidup seseorang terlalu lama

Atau mudahnya Asuransi jiwa adalah jaminan untuk keturunan. Misalnya seorang Ayah meninggal dengan tiba-tiba dan meninggalkan anak serta istrinya. Jika Sang Ayah memiliki Asuransi jiwa maka hidup anaknya tersebut, tidak akan terlantar sepeninggalan dirinya

Namun walaupun sebagian besar orang telah tahu apa arti asuransi jiwa sebenarnya, masih banyak orang yang enggan untuk membelinya. Alasan yang  paling sering dikatakan adalah mahalnya premi asuransi yang dibayarkan. Terlepas dari keengganan Anda memiliki Asuransi jiwa, tahukah Anda banyak fakta dan alasan kenapa Anda harus memiliki Asuransi jiwa. Berikut adalah alasan-alasan tersebut.

1. Sedia Payung Sebelum Hujan

Sedia Payung Sebelum Hujan via pasarpolis.com

Hidup memang selalu punya rahasianya sendiri. Sama Seperti musibah atau kecelakaan, kita tidak pernah tahu kapan dan di mana terjadi. Jika hal tersebut terjadi, akan ada biaya-biaya yang kita keluarkan untuk pengobatan di luar anggaran yang kita buat. Di saat seperti itulah peran asuransi jiwa dibutuhkan, untuk mengkover segala biaya-biaya pengobatan yang harus dikeluarkan ketika hal itu terjadi. Bahkan ketika pemilik asuransi yang juga berperan sebagai pencari nafkah mendapatkan penyakit berat yang menyebabkan dirinya tidak mampu lagi bekerja menghidupi keluarga. Asuransi akan membantu Anda mengatasi keuangan Anda yang berubah secara drastis ketika hal-hal tersebut terjadi.

Baca Juga : Memilih Asuransi Kesehatan Terbaik? Ini Kriterianya

2. Kematian Merupakan Hal Yang Pasti

Kematian Hal Yang Pasti via hereandnow.wbur.org

Salah satu hal yang pasti didunia ini adalah kematian. Namun seperti bertolak belakang dengan kalimat tersebut adalah satu hal yang tidak pasti adalah waktu kematian itu sendiri. Pernahkah Anda membayangkan jika sewaktu-waktu Anda sebagai pemberi nafkah keluarga meninggal dunia secara tiba-tiba, siapakah yang akan membiayai dan melindungi keluarga dari masalah keuangan setelah Anda pergi? Untuk Anda yang memiliki asuransi jiwa mungkin hal ini tidak akan terlalu mengkhawatirkan, karena pada dasarnya Asuransi jiwalah yang akan mengatasinya masalah ini. Asuransi jiwa memungkinkan keluarga membayar berbagai biaya serta hutang yang mungkin masih tersisa.

3. Memberi Ketenangan Batin

Memberi Ketenangan Batin via jtsfs.com

Menyambung dari pernyataan sebelumnya. Hal ini tentu saja tidak bisa dipungkiri. Asuransi jiwa saat ini memberi seseorang sesuatu yang berharga yaitu ketenangan pikiran karena mengetahui keluarganya tidak akan terlantar saat sesuatu yang tidak terduga terjadi seperti kematian.

4. Sebagai Instrument Investasi

Investasi via hubhomedesign.com

Berinvestasi di asuransi yang ada unitlink (Kaitannya dengan investasi) menjadi pilihan yang cukup bijak. Hal ini dapat Anda bandingkan ketika menabung di bank yang sering kali terkena inflasi dan seringnya anda menarik uang di ATM. Yang tanpa Anda sadari habis begitu saja. Dengan memiliki Asuransi jiwa jenis ini Anda tidak hanya diajarkan untuk menabung untuk jangka panjang, namun juga membiasakan diri untuk berdisplin dalam mengatur anggaran keuangan. Hasil dari tersebut nantinya juga dapat Anda gunakan untuk apa saja, untuk beli rumah, mobil impian atau perjalanan liburan ke tempat yang Anda inginkan.

Baca juga: 3 Fakta Mengejutkan Seputar Investasi Emas

Milikilah Asuransi Jiwa Sejak Dini

Berbicara tentang Asuransi jiwa memang identik dengan orang tua, namun bukan berarti Anda yang masih sehat dan muda tidak membutuhkannya. Atau mungkin Anda merasa belum memiliki Asuransi jiwa karena belum memiliki anak walau sudah menikah. Salah satu keuntungan memilik Asuransi selagi muda adalah premi asuransi yang anda bayar akan semakin ringan.

Namun beberapa dari Anda mungkin berpikir bahwa premi asuransi terasa seperti membuang uang, karena manfaatnya sendiri tidak langsung terasa. Apalagi jika kita berbicara mengenai Asuransi jiwa, di mana manfaatnya tidak langsung dirasakan oleh pemiliknya, namun justru dirasakan oleh ahli warisnya. Satu hal yang perlu Anda ingat, bahwa Asuransi jiwa dibeli bukan untuk meninggal, melainkan memastikan orang yang ditinggal tetap sejahtera.

Dan kenapa harus menungu besok, jika Anda bisa memilikinya sekarang?

Categories
Asuransi

Mengenal Sejarah Asuransi di Luar Negeri

Sejarah asuransi di luar negeri sangatlah panjang  Sepanjang sejarah manusia, usaha manusia yang mirip dengan asuransi sebagaimana kita kenal dewasa ini baru ditemukan pada zaman kebesaran Yunani dibawah pemerintahan Alexander Agung (336 – 323 SM). Pada zaman itu diketahui adanya dua macam usaha manusia yang mirip dengan asuransi.

sejarah polis asuransi jiwa

Pertama adalah upaya dari beberapa kotapraja untuk mengisi kasnya dengan cara meminjam uang dari perseorangan dengan syarat-syarat sebagai berikut :

  • Jumlah uang pinjaman diberikan sekaligus kepada kotapraja oleh yang meminjamkan, misalnya 6.000 drachmen.
  • Setiap bulan kotapraja membayar sejumlah 50 drachmen kepada yang meminjamkan uang hingga ia wafat.
  • Ketika ia wafat, kepada ahli warisnya atau keluarganya, kotapraja akan memberikan 200 drachmen untuk biaya pemakaman.

Cara-cara yang ditempuh oleh kotapraja untuk mengisi kasnya tidak lain dari cara life annuity (penopang hidup) yang dewasa ini juga dipasarkan oleh perusahaan-perusahaan asuransi jiwa.

Dalam garis besarnya, pengertian dari life annuity adalah lebih kurang sebagai berikut. Seorang annuitant menyetor sejumlah uang, misalnya Rp 25.000.000,00 kepada perusahaan asuransi. Lalu perusahaan asuransi merancang sejumlah uang tersebut untuk dibayarkan setiap bulan kepada annuitant sebagai penopang hidupnya.

Kedua adalah upaya Antimenes, Menteri Keuangan Kerajaan Yunani, untuk memperoleh uang ketika kerajaan mengalami krisis keuangan. Antimenes mengusulkan kepada orang-orang kaya yang mempunyai budak agar mendaftarkan budak mereka kepada pemerintah dengan syarat-syarat sebagai berikut :

  • Pemerintah akan berupaya menangkap setiap budak yang melarikan diri dari tuannya (peristiwa).
  • Bila pemerintah tidak berhasil menangkap budak yang melarikan diri dalam jangka waktu tertentu maka pemerintah akan membayar sejumlah uang kepada pemilik budak sesuai dengan harga budak pada umumnya (ganti rugi).
  • Setiap permulaan tahun, pemilik budak membayar sejumlah uang kepada pemerintah yang jauh lebih kecil dari harga budak (balas jasa, premi).

Peristiwa, ganti rugi, dan premi merupakan tiga unsur pokok yang melekat pada tubuh asuransi kerugian. Jadi cara yang ditempuh oleh Antimenes untuk mengisi kas kerajaan tidak lain dari cara asuransi kerugian.

Antimenes berhasil memperoleh uang yang diperlukan oleh kerajaan, sehingga dalam kurun waktu yang cukup lama, secara tidak langsung kerajaan Yunani dibiayai oleh budak-budak. Namun budak-budak tidak memperoleh manfaat apa-apa, bahkan mereka semakin sulit untuk membebaskan diri dari status budaknya.

 

Zaman Kebesaran Romawi

Di dalam masyarakat Romawi dijumpai berbagai macam perkumpulan (collegium). Diantara berbagai macam perkumpulan itu ada jenis perkumpulan yang mirip dengan asuransi, yaitu Cultorum Dianae et Antinoi, Collegium Lambaesis dan Collegium Tenuiorum.

Cultorum Dianae et Antinoi merupakan perkumpulan kematian yang didirikan atas inisiatif kelompok masyarakat setempat dengan peraturan sebagai berikut :

  • Dari setiap anggota dipungut uang pangkal 100 sesterti, dan setiap bulan dipungut iuran asses setiap anggota.
  • Bila ada anggota yang meninggal, kepada ahli warisnya atau keluarganya diberikan bantuan 300 sesterti untuk biaya pemakaman.

Collegium Lambaesis merupakan perkumpulan di kalangan tentara Romawi dengan peraturan sebagai berikut :

  • Dari setiap anggota dipungut uang pangkal dan juga dipungut uang iuran setiap bulan.
  • Bila salah seorang anggota naik pangkat, maka perkumpulan memberikan sejumlah uang sebagai biaya untuk merayakan kenaikan pangkatnya.
  • Bila salah seorang anggota dipindahtugaskan ke kota lain, maka perkumpulan memberikan sejumlah uang untuk biaya jamuan perpisahan dengan teman-temannya, juga diberikan sejumlah uang untuk biaya pindah ke tempat tugas yang baru.

Collegium Tenuiorum merupakan perkumpulan di kalangan tentara Romawi yang mengumpulkan dana berupa iuran bulanan dari para anggotanya, yang diperlukan untuk biaya pemakaman anggota yang meninggal.

Pada zaman kerajaan Romawi diperlukan banyak tentara untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan lain dan memadamkan pemberontakan di daerah jajahan, yang meminta banyak korban tentara.

Demikian banyaknya korban sehingga memerlukan biaya besar jika dimakamkan secara terhormat dengan upacara militer. Maka timbullah kesadaran di kalangan tentara Romawi bahwa biaya besar akan terasa ringan bila ditanggung bersama-sama. Maka secara sukarela tentara Romawi mendirikan perkumpulan Collegium Tenuiorum.

 

Zaman Abad Pertengahan

Sekitar permulaan abad ke-10 Masehi, di Exceter, Inggris, orang-orang gilde (orang-orang yang sama pekerjaannya) seperti gilde tukang, gilde pedagang, menjalin kerjasama untuk memikul bersama kerugian bila rumah salah seorang anggota gilde terbakar.

Gilde mengumpulkan dana dari para anggotanya berupa iuran setiap bulan. Dari dana yang terkumpul itulah diberikan sejumlah uang kepada anggota gilde yang rumahnya terbakar.

Upaya orang-orang gilde itu untuk menjamin resiko kebakaran atas rumah anggotanya mirip dengan asuransi kebakaran, hanya jaminan yang diberikan terbatas pada anggotanya.

Antara gilde tukang dengan gilde pedagang terjalin kerjasama. Para tukang menjual produksinya kepada para pedagang, lalu para pedagang menjualnya kepada konsumen lokal atau dikirim ke kota lain, bahkan juga dikirim ke seberang lautan. Karena perkembangan dan kemajuan masyarakat, usaha para tukang dan para pedagang berkembang pesat.

Nama gilde yang mereka pakai akhirnya merupakan simbol kerjasama antara para tukang dengan para pedagang. Dan dalam sejarah perekonomian, nama gilde dikenal sebagai perkumpulan antara para tukang dan para pedagang di Eropa Barat pada zaman pertengahan.

Para pedagang yang mengirimkan produk para tukang ke seberang lautan memerlukan armada pelayaran. Namun karena pada zaman itu ilmu pelayaran belum maju, maka berkali-kali pengalaman pahit dialami oleh pemilik kapal, sehingga bukan hanya pemilik kapal yang menderita kerugian, para pedagang pun mengalami hal yang sama.

Oleh karena itu para pemilik kapal dan para pedagang sangat merasakan kebutuhan adanya jaminan untuk memperoleh kepastian dan keamanan atas sampainya kapal dan barang ditempat tujuan. Tampillah orang-orang kaya pemilik uang memenuhi jaminan yang mereka butuhkan.

 

Jaminan atas Bahaya Laut

Jaminan atas bahaya laut yang dialami dalam pelayaran terasa sangat dibutuhkan sejak masa kruistochten, yaitu pengiriman tentara Kristen dari berbagai negara di Eropa Barat ke Palestina untuk merebut kota Jerusalem dari tangan tentara Islam (Perang Salib 1096 – 1291 M).

Dalam pengiriman tentara dan logistik ke Palestina melalui laut dengan menggunakan kapal-kapal layar, ternyata banyak kapal mengalami kecelakaan di laut akibat dari angin topan dan ombak besar.

Maka terasalah kebutuhan akan adanya jaminan agar kapal dan logistik yang tenggelam tidak hilang sia-sia, tetapi ada yang menggantinya. Demikian juga kebutuhan atas adanya jaminan bagi tentara yang tenggelam bersama kapal, minimal sekedar pelipur lara bagi keluarga yang ditinggalkannya.

Pemerintah dari negara-negara yang ikut ambil bagian dalam Perang Salib itu tidak mampu menyediakan jaminan yang dibutuhkan, karena untuk membiayai peperangan itu saja mereka sudah pusing. Namun demikian pemerintah berusaha mencari jalan keluar untuk memperoleh jaminan yang dibutuhkan.

Tampillah orang-orang kaya pemilik banyak uang. Mereka bersedia menjamin pengiriman tentara dan logistik melalui laut ke Palestina, termasuk menjamin kapal itu sendiri. Bila kapal ditimpa bahaya dilaut sehingga menderita kerugian, mereka akan memberikan ganti rugi yang pantas.

Namun mereka menuntut imbalan atas jasa jaminan yang mereka berikan, yang jauh lebih kecil dari nilai jaminan yang mereka berikan. Dan imbalan jasa itu harus diberikan kepada mereka sebelum diketahui atau sebelum ada tanda-tanda bahwa kapal akan ditimpa bahaya dilaut.

Maka dirancanglah syarat-syarat jaminan dan ganti rugi serta imbalan jasa atas jaminan itu. Maka tumbuhlah asuransi pengangkutan melalui laut untuk menjamin tentara dan logistik serta kapal yang dikirim ke Palestina dalam bentuk yang sederhana, yang masih berbobot ke arah gambling.

Dengan berpedoman pada pengalaman dan berbagai bahaya yang dialami dalam masa kruistochten, rancangan semakin disempurnakan. Setelah masa kruistochten berakhir, berkembang dan meluaslah perdagangan melalui laut diantara negara-negara yang berhadapan dengan Laut Tengah dengan berbagai ragam jaminan yang tidak seragam. Demikian juga berkembang dan meluas perdagangan melalui laut antara Inggris dengan Eropa daratan yang dipelopori oleh para tukang dan para pedagang yang tergabung dalam gilde.

Resiko dalam pelayaran melalui laut memang sangat besar, juga banyak ragam bahaya laut yang dihadapi. Yang terutama merasakan resiko itu adalah pemilik kapal. Bila kapalnya tenggelam, musnahlah harapannya, hilanglah sumber hidupnya bila kapal yang tenggelam itu hanya satu-satunya. Ditambah lagi dengan tuntutan ganti rugi dari pemilik barang yang diangkut oleh kapalnya, semakin pusinglah pemilik kapal. Maka dia berupaya untuk mengurangi resiko yang dihadapinya.

Cara yang ditempuh oleh pemilik kapal adalah meminjam sejumlah uang dari seseorang dengan kapalnya sebagai jaminan, dengan ketentuan bahwa uang pinjaman tidak dikembalikan bila kapal tenggelam, tetapi pinjaman akan dikembalikan ditambah dengan bunganya bila kapal selamat tiba di pelabuhan tujuan, juga ditambah dengan sejumlah uang sebagai imbalan atas resiko yang dipikul oleh pemilik uang. Untuk pinjaman uang itu dibuat surat perjanjian yang disebut Bottomry Contract.

Pemilik barang pun merasakan resiko pengiriman barang dengan kapal laut. Bila barang tidak sampai di pelabuhan tujuan, dia memang bisa menuntut ganti rugi dari pemilik kapal, tetapi yang dihadapinya lebih sering bersitegang urat leher. Lagipula bila kapal tenggelam bersama barangnya dan tenggelamnya kapal bukan karena kesengajaan atau kelalaian nakhoda, apakah pantas dia menuntut ganti rugi dari pemilik kapal? Apalagi bila pemilik kapal jatuh bangkrut.

Maka pemilik barang pun meminjam sejumlah uang dengan barang sebagai jaminan. Bila barang selamat tiba di pelabuhan tujuan, uang pinjaman akan dikembalikan bersama bunganya ditambah dengan sejumlah uang sebagai imbalan atas resiko yang dipikul oleh pemilik uang. Surat perjanjiannya disebut Respondentia Contract.

Namun upaya pemilik uang meminjamkan uang kepada pemilik kapal dan pemilik barang diprotes keras oleh para pemimpin agama Kristen. Yang diprotes keras bukan pinjaman itu, tetapi bunga pinjaman yang mereka anggap sebagai riba. Memang agama Kristen, seperti halnya agama Islam, melarang keras adanya riba.

Untuk mengatasi protes para pemimpin agama, pemilik uang merancang bentuk perjanjian baru. Uang yang diperlukan oleh pemilik kapal dan pemilik barang tidak diberikan dalam bentuk uang, tetapi berupa jaminan bahwa ia akan memberikan ganti rugi bila kapal dan barang mengalami malapetaka dalam pelayaran.

Sebagai imbalan atas jaminan yang diberikan oleh pemilik uang, maka menjelang kapal berangkat, pemilik kapal dan pemilik barang membayar sejumlah uang kepada penjamin yang jauh lebih kecil daripada harga kapal dan harga barang yang dijamin oleh pemilik uang (sama dengan jaminan dalam masa kruistochten, tetapi prosedur dan tekniknya lebih sempurna sejalan dengan perkembangan kemajuan manusia).

Dengan diterapkannya rancangan baru itu mulailah diletakkan pondasi asuransi angkutan laut (marine insurance), yang semakin lama berkembang sejalan dengan perkembangan perdagangan antar pelabuhan dan antar negara.

Berpedoman pada pengalaman-pengalaman pahit yang dialami oleh pemilik kapal, maka akhirnya mereka menyadari bahwa bukan hanya kapal dan barang yang perlu dijamin, tetapi juga nakhoda, karena nakhoda lah yang paling menentukan atas keselamatan dalam pelayaran. Maka mulailah tumbuh jaminan (asuransi) atas keselamatan nakhoda, kemudian menyusul jaminan atas keselamatan para anak buah kapal (crew).

Zaman Sesudah Abad Pertengahan

Asuransi angkutan laut semakin luas digunakan sehingga menjadi kegiatan rutin bagi para pemilik kapal dan pemilik barang di negara-negara Eropa Barat dengan bobot di London, Inggris.

Sekitar abad ke-12 Masehi, di Iceland, tumbuh asuransi kebakaran model asuransi kebakaran gilde di Exeter. Kemudian tumbuh pula asuransi kebakaran di Denmark dan di Jerman.

Lama kemudian baru berkembang asuransi kebakaran (bukan model gilde), yang dimulai di Inggris pada abad ke-17 setelah terjadinya kebakaran besar di London selama 4 hari (tanggal 2-5 September 1666). Kebakaran dimulai di Pudding Lane di perusahaan roti yang menyediakan roti untuk kebutuhan roti di istana raja Inggris.

Dalam kebakaran besar itu 89 gereja dan 13,200 rumah musnah terbakar dan sekitar 8 bagian kota London rata dengan tanah. Dari sekitar 500.000 orang penduduk London, sekitar 200.000 orang kehilangan rumahnya. Pembangunan kembali kota London baru pulih pada tahun 1671.

Kebakaran besar itu mendapat perhatian dari para penanggung perorangan yang bergerak dalam bidang asuransi pengangkutan. Mulailah mereka mengarahkan usahanya ke asuransi kebakaran sebagai usaha tambahan.

Mereka bekerja secara berkelompok terdiri dari 2 atau 3 orang bekerjasama untuk menanggung sesuatu obyek kebakaran. Dan sebagai tempat mereka bekerjasama, didirikanlah The Fire Office.

Menyusul berdirinya perusahaan asuransi kebakaran The Corporation of London. Dalam perusahaan ini pemerintah kotapraja London ikut menjadi peserta. Kemudian berdiri lagi The Friendly Society yang mempunyai status seperti The Fire Office.

Kemudian berdiri perusahaan asuransi kebakaran berbentuk mutual The Hand in Hand (1696) dan The Commercial Union, juga berbentuk mutual. (Pada tahun 1905, kedua perusahaan asuransi kebakaran ini digabung menjadi satu dengan bentuk perseroan terbatas, Ltd. Coy).

Menyusul berdiri perusahaan asuransi kebakaran The Sun Fire Office dan The Union Fire Office(1714), kemudian berdiri perusahaan asuransi kebakaran The Westminster Office (1717).

Di kota-kota diluar London pun berdiri perusahaan-perusahaan asuransi kebakaran seperti di kota Bristol, Edinburg, dan lain-lain kota. Perusahaan asuransi juga meluas ke daratan Eropa dan Amerika.

Mula-mula terdapat spesialisasi dalam penutupan resiko kebakaran, yaitu :

  • The Hand in Hand hanya menanggung resiko kebakaran atas bangunan.
  • The Sun Fire Office hanya menanggung resiko kebakaran atas komoditi dagang.
  • The Union Fire Office hanya menanggung resiko kebakaran atas komoditi muatan (yang diangkut).

Dalam sistem spesialisasi itu ternyata mereka mengalami kesulitan karena kebakaran bangunan toko juga merembet membakar komoditi dagang, demikian pula sebaliknya. Maka mereka meninggalkan sistem spesialisasi dan sekaligus menanggung semua resiko kebakaran.

Sampai dengan abad ke-18, klasifikasi resiko dipisah ke dalam 3 tingkatan resiko, yaitu :

  • Resiko biasa (common risks);
  • Resiko yang membahayakan (Hazardous risks);
  • Resiko sangat membahayakan (extra hazardous risks).

Sejak ditemukannya mesin uap oleh James Watt, maka proses pembuatan barang-barang (manufactures) yang dahulu sederhana menjadi kompleks dengan digunakannya mesin uap dalam proses pembuatan barang-barang. Maka klasifikasi resiko kebakaran ke dalam 3 tingkatan tidak dapat dipertahankan lagi dan akhirnya meluas menjadi berbagai resiko kebakaran seperti yang dikenal dewasa ini.

Pada awal abad ke-19, Napoleon Bonaparte dari Perancis menugaskan para pembantunya untuk mengadakan kondifikasi hukum, yang kemudian dikenal sebagai Code de Civil (Hukum Perdata) dan Code de Commerce (Hukum Dagang). Ke dalam Code de Commerce dimasukkan asuransi angkutan laut, sedangkan jenis-jenis asuransi lainnya tidak dimasukkan.

Pada awal abad ke-19, negeri Belanda berada dibawah pengaruh Perancis. Rupanya karena berada dibawah pengaruh Perancis, maka ke dalam Wetboek van Koophandel (Kitab Hukum Dagang) yang disusun oleh pemerintah Belanda hanya asuransi angkutan laut yang dimasukkan. Lebih satu abad kemudian, yaitu pada tahun 1938, baru dimasukkan asuransi kebakaran, asuransi hasil bumi, asuransi jiwa, dan jenis asuransi lainnya ke dalam Wetboek van Koophandel.

Selaku negeri jajahan Belanda pada zaman itu, Wetboek van Koophandel juga diberlakukan di Hindia Belanda (Indonesia), yang dewasa ini dikenal dengan KUHD (Kitab Undang-undang Hukum Dagang).

 

Asuransi Jiwa di Inggris

Berpedoman pada pertanggungan atas jiwa Williams Gybbons, para penanggung perorangan di London berfikir bahwa akan lebih menguntungkan bila didirikan suatu badan asuransi. Maka para pemilik uang mengkhususkan kegiatannya dalam asuransi jiwa. Mereka dikenal dengan nama underwriters (penandatanganan di bawah) karena mereka membubuhkan tandatangannya dibagian bawah akta perjanjian (polis).

Para underwriters itu berkumpul di warung-warung kopi, dimana informasi mengenai kapal-kapal yang berlayar mereka peroleh beserta informasi-informasi lainnya yang diperlukan dalam penutupan asuransi.

Salah seorang pemilik warung bernama Edward Lloyd, yang warkopnya terletak didekat sungai Thames, sangat berjasa dalam memberikan informasi kepada para underwriters langganan warkopnya.

Pada tahun 1706 berdirilah The Americable of London sebagai suatu perusahaan asuransi jiwa yang berdasarkan gotong royong. Setelah puluhan tahun perusahaan asuransi jiwa itu beroperasi, timbul pemikiran yang lebih maju dan ilmiah yang mendasari berdirinya perusahaan asuransi The Equitable of London (1762).

Para penanggung perseorangan melakukan kerjasama dalam penutupan asuransi dengan bentuk patungan. Sebagai wadah kerjasama mereka, maka mereka mendirikan Lloyd’s Corporation.

 

Asuransi Jiwa di Amerika Serikat

Disebabkan masalah keagamaan, politik, dan kekuasaan, berlangsung perpindahan besar-besaran (exodus) penduduk Eropa ke Amerika Serikat dengan membawa berbagai ide didalam pikiran mereka mengenai kemerdekaan, hak asasi manusia, juga ide kerjasama di berbagai bidang termasuk bidang proteksi (perlindungan). Maka pada tahun 1759 berdirilah suatu perkumpulan kematian bernama Pressbyterian Ministers Fund, yang mengatur penyediaan dana untuk membiayai anggotanya yang meninggal.

Mula-mula perkumpulan itu hanya melayani kepentingan anggotanya, namun beberapa tahun kemudian perkumpulan itu melakukan kegiatan ke luar berupa pemasaran asuransi jiwa secara umum.

Pada tahun 1840 berdirilah lembaga-lembaga asuransi jiwa dalam bentuk mutual (kerjasama atau asuransi jiwa bersama), yaitu :

  • The Mutual Life Insurance Company of New York.
  • The State Mutual Life Insurance Life Company of Worchester.
  • The New England Mutual Life Insurance Company.
  • The Mutual Benefit Life Insurance Company of New Jersey.

Sepuluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 1850, beberapa stock companies (perseroan) mendirikan dan melakukan kegiatannya dalam bidang asuransi jiwa, yaitu :

  • The United States Life.
  • The Manhattan Life.
  • The Aetna Life Insurance Company.

Setengah abad kemudian (1900) tercatat 76 perusahaan asuransi jiwa di Amerika Serikat. Pada tahun 1910 tercatat 214 perusahaan asuransi jiwa, dan terakhir tercatat lebih 2000 perusahaan asuransi jiwa.